Mungkin sekarang ini sudah jarang kita temui rumah makan model lesehan. Bagi yang ingin merasakan, ada baikyan mengunjungi rumah makan DJS Kampoeng Aer.
Terletak di Family Park Alam Sutera, Serpong, Tangerang, rumah makan ini tidak hanya menawarkan makan lesehan, tapi nuansa pedesaan juga ditampilkan.
Sejak di pintu masuk, pengunjung sudah dapat merasakan suasana pedesaan yang ditawarkan DJS Kampoeng Aer. Karena mulai dari bagian depan hingga belakang, restoran yang berdiri tahun 2004 ini hadir dengan konsep saung atau pondok-pondok di tengah kolam ikan.
Dinding restoran yang terbuat dari anyaman bambu dan beratap rumbia, menciptakan suasana pedesaan yang masih sangat tradisional. Kondisi ini membuat siapa pun betah berlama-lama di restoran ini. Sambil menunggu menu pesanan datang, para tamu dimanjakan dengan lantunan lagu-lagu bernuansa Sunda.
Tak kalah menariknya, pengunjung juga dimanjakan dengan suara gemericik air yang selalu mengalir dari pancuran-pancuran yang didesain khusus sehingga menimbulkan suasana yang nyaman dan menyegarkan. Bagi pencinta ikan, di bagian belakang restoran yang banyak ditumbuhi aneka pohon yang menambah keteduhan ini, Anda bisa melihat sebuah akuarium berisikan ikan-ikan buaya dari Brasil yang unik.
"Selama ini jika ingin makan sambil lesehan, orang harus jauh-jauh pergi ke Bogor atau Puncak. Dengan lahan lebih kurang 3000 meter, kami bisa menghadirkan suasana alam pedesaan di restoran ini. Tempatnya juga dekat dengan Jakarta," kata pemilik DJS Kampoeng Aer Ericson, ditemani istri tercinta, Dewi Ericson.
Selain memanjakan tamu dengan konsep lesehan tradisional, restoran ini juga menyuguhkan aneka hidangan Nusantara yang menggugah selera. Berbagai hidangan mulai aneka ikan hingga daging dapat dipesan di tempat ini.
"Menu paling favorit di tempat ini antara lain gurame goreng kipas, gurame bakar, karedok, cumi bakar, dan tahu isi. Menu baru kami, gurame saus mangga, juga banyak yang memesan," kata alumnus National Hotel Institute (NHI) Bandung ini.
Konsep restoran lesehan ala pedesaan, menurut Ericson yang juga alumni sekolah perhotelan di Amerika, merupakan ladang bisnis yang sangat menjanjikan. Apalagi menu yang ditawarkan adalah masakan Nusantara.
"Apa pun yang disajikan oleh restoran, mereka memiliki pangsa pasar sendiri. Namun, masakan Nusantara atau masakan tradisional tidak akan ditinggalkan karena semua orang membutuhkan nasi," terang Ericson.
Suasana akan terasa benar- benar berbeda jika pengunjung datang pada malam hari. Suasana remang-remang, embusan angin, dan suara jangkrik membuat restoran ini sering dikunjungi oleh mereka yang memang sangat membutuhkan ketenangan dan ingin bersantai dari rutinitas keseharian yang padat.
"Kalau habis musim penghujan, di tempat ini bisa juga terdengar suara kodok yang saling bersahutan," kata Dewi melanjutkan.
Keunikan lain DJS Kampoeng Aer adalah, pemiliknya rajin melakukan survei. Selain survei perbandingan harga, sang pemilik restoran juga rajin melakukan survei menu-menu yang paling digemari oleh masyarakat.
"Umumnya yang datang ke restoran kami adalah keluarga. Akhir pekan biasanya semua tempat penuh, bahkan bisa dua minggu indent untuk pemesanan tempat duduk," ujar Dewi.
Sementara keunikan menu yang ditawarkan di DJS Kampoeng Aer, menurut Ericson, adalah rasanya yang betul-betul muncul dari bumbu asli. "Setiap kali restoran kami menyajikan menu, kami selalu ingin mempersembahkan rasa yang benar-benar berkualitas dan menggigit lidah," katanya menegaskan.(YUD)







