BERTEMPAT di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Theater Office Natori dari Jepang mementaskan karya berjudul Modern Noh Theater, Kamis, 16 Oktober 2008, Pukul 20.00 WIB. Pementasan tersebut digelar dalam rangka 50 tahun Persahabatan Indonesia – Jepang, dengan tema Hari Kebangkitan: Dari karya terakhir Ibsen ‘Ketika Kita Yang Telah Mati Bangkit,’ yang merupakan konflik antara tradisionalisme dan modernisme. Digarap oleh sutradara Mitsuya Mori, dan komposisi Noh oleh Reijiro Tsumura. Pemain Yu Mizuno sebagai Maia, Masaru Ikeda sebagai Ulfheim, Reijiro Tsumura sebagai Irene dan Koji Okukawa sebagai Arnold Rubek.
Kubek, seorang pematung terkenal tingkat dunia, bersama dengan istrinya yang masih muda, Maia, kembali ke kampung halamannya setelah sekian lama pergi. Namun, mereka justru merasakan semacam ketidakpuasan tentang keberadaan diri mereka masing-masing. Di sana, Rubek bertemu kembali dengan Irene, seorang gadis yang dulu pernah menjadi model bagi mahakaryanya yang paling bagus, yang kemudian menghilang seperti tak berbekas.
Mereka berdua mencari jalan hidup baru dalam keterikatan mereka pada tradisi dan mendaki gunung bersama untuk menyambut sang fajar nan berkilau. Sementara itu, terdengar lagu kebebasan dari Maia yang sedang bersama Ulfheim, si pemburu beruang.
Pertentangan antara Ibsen – yang dalam hal ini adalah Rubek – sang maestro seni tradisional dengan kesenian modern pada akhir abad ia hidup adalah tema dari karya ini.
Di dalam karya tersebut, kesenian diumpamakan sebagai hidup manusia. Irene adalah lambang dari tradisionalisme. Ia kehilangan dirinya dalam jaman yang baru. Sedangkan Maia yang berhasil melepaskan diri dari belenggu tradisionalisme,terjun dalam dunia yang bebas namun dia tetap merasa tidak stabil. Rubek yang terobang-ambing diantara kedua wanita ini adalah manusia yang menjunjung tinggi makna tradisionalisme, dan bersama dengan Irene ia hendak merasakan kembali puncak dari seni.
Dan yang tidak pernah dipusingkan oleh konflik batin seperti ini adalah Ulfheim si pemburu yang merupakan sosok modernisme yang dicari-cari oleh Maia.
Sisi tradisionalisme diperankan oleh aktor Noh, dan sisi modernisme diperankan oleh aktor seni modern. Akan tetapi, karena kerangka kesenian ini terbatas pada sisi tradisionalisme, maka pada prinsipnya bentuk drama dan bentuk pementasan diwujudkan dalam pakem kesenian Noh. Dengan kolaborasi antara tradisionalisme dan modernisme ini, kita dapat melihat tema pokok dalam karya terakhir Ibsen. (Asi)
No related posts.







