Nokia hari ini merilis enam seri untuk pasar dunia ketiga alias negara-negara berkembang termasuk Indonesia dan India.
Dalam paparannya mengenai produk tersebut di Jakarta, Vice President Entry Category Nokia Paula Laine mengungkapkan, rata-rata biaya kepemilikan ponsel atau total cost of ownership (TCO) dari masyarakat berpenghasilan rendah di Asia, khususnya Indonesia dan India, 13 dolar Amerika atau sekitar Rp 130 ribuan.
"Nokia sangat tertantang melihat kenyataan di emerging market seperti ini. Sejak 2005 lalu, kami telah menurunkan 30 persen harga ponsel kami agar bisa semakin terjangkau di semua segmen," ujarnya.
Sejatinya, kata Paula, total biaya dari kepemilikan ponsel hanya berkisar 8 persen saja dari yang dikeluarkan, sedangkan 92 persen sisanya dialokasikan untuk biaya lain semisal servis layanan dan pajak.
Melihat TCO sebagai acuan daya beli masyarakat negara berkembang, Nokia tidak merasa produknya terlalu mahal, khususnya jika dibandingkan dengan harga produk terbarunya yang dibanderol terkecil 25 euro atau sekitar Rp 320 ribu (31,6 dolar Amerika).
Sementara itu, Country Manager Nokia Indonesia, Hasan Aula, mengatakan, "Mahal atau murah itu relatif, tergantung benefit yang dirasakan pelanggan. Saya kira dengan desain dan fitur-fitur yang dimiliki Nokia, harga yang kami tawarkan relatif terjangkau."
Menurut Hasan, pasar di Indonesia cukup unik mengingat ponsel yang paling mahal sekalipun, misalnya Nokia E90, bisa laris manis dalam beberapa waktu. Bahkan orang sampai rela mengantri untuk mendapatkannya. (Yud)
Berita lainnya:







