Teater Kabaresi akan mememntaskan drama roman-komedi “Kawin Lari” di Belanda pertengahan-akhir bulan ini.
“Ini bagian dari kegiatan promosi budaya Maluku. Lewat pertunjukan ini diharapkan masyarakat di luar Tanah Air bisa tertarik untuk berkunjung ke Maluku,” kata Kadisbudpar Maluku, Florance Sahusilawane.
Rencananya, kontingen Teater Kabaresi beranggotakan 22 pelaku seni asal Maluku hari Senin (4/5) bertolak ke Jakarta dan langsung menuju tempat karantina di kawasan Puncak, Bogor, sebelum menuju Belanda tanggal 12 Mei 2009.
Di negara itu mereka akan pentas di 20 kota, termasuk di KBRI di Den Haag.
Drama “Kawin Lari” merupakan pementasan ketiga Teater Kabaresi di negeri kincir angin. Sebelumnya mereka sudah dua kali tampil di Belanda pada tahun 2006 dan 2007.
Pementasan pada tahun ini mengangkat cerita romantis Romeo & Juliet dalam bentuk gerak tari dan lagu, namun sarat unsur komedi.
Cerita mengisahkan kehidupan asmara pasangan Atus dan Oci yang tidak direstui orang tua kedua pihak.
Yang menarik, semua dialog dituturkan secara humor khas Maluku, ditimpali lagu-lagu roman-waltz seperti “Bulan Pake Payung” dan “Sio Ale Nona”. Dalam berdialog para seniman pun menggunakan aksen masyarakat dari berbagai kampung, antara lain Mahu, Ihamahu. Haria, Hulaliu, Ulat, Mateng, Malra, juga bahasa campuran Ambon-Belanda yang jenaka.
Drama dikemas pula secara musikal, menampilkan musik totobuang dan keyboard modern, dan kaya dengan tarian tradisional termasuk arkira tarika, cakalele, orlapei saureka-reka, tak terkecuali katredji atau dansa Eropa khas Ambon.
Seperti perjalanan cinta Romi dan Yuli yang berdarah-darah, hubungan asmara Atus dan Oci pun diwarnai pertarungan sengit antarkeluarga. Namun mereka berhasil menyatukan cintanya hingga akhirnya direstui keluarga masing-masing.
Didahului upacara adat perdamaian, pesta pernikahan digelar meriah dalam acara katredji dengan iringan musik dan lagu gembira semacam Hura-Hura Cincin, Sayang Kane dan sebagainya. (Nis)
Berita lainnya:







