JAKARTA – Untuk merasakan manisnya madu musik dangdut, bagi seorang Basri Buhari bukan lagi menjadi sebuah impian. Pasalnya, sejak tiga tahun lalu dirinya sudah mampu berbicara banyak di jagad per-dangdutan tanah air. Apalagi, kata dia, kala itu debut album perdananya ‘Rena Rena’ (2007) berhasil mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari para penggemarnya.
“Apa yang saya dapatkan sekarang, hasil dari kerja keras. Ternmasuk datangnya bantuan dari teman-teman artis senior, seperti Macicha Mochtar, Tetty Barokah dan Irma Darmawangsa. Saya ke depannya ingin lebih profesional, karena punya peluang besar di situ,” kata pria kelahiran Bone, Makasar, Sulawesi Selatan, 30 Januari 1968 itu.
Basri Buhari termasuk orang yang memiliki multi talenta dan kesungguhan yang luar biasa. Tak sekadar mengisi panggung-panggung dangdut negeri ini, Basri bahkan aktif mengingisi acara tetap di Radio Dangdut TPI dan pembawa acara Ngobrol Bareng Bintang Dangdut di Batam TV. Untuk bidang akting pun dilakoninya. Dua di antaranya bermain dalam sinetron Bukan Pemimpi di Global TV serta main dalam produksi film berjudul Ksatria.
Mantan aktifis lingkungan hidup tersebut menuturkan bahwa kesuksesan yang didapatnya kini, tidak terlepas dari kenekatannya merantau ke kota lain. “Saya sukses setelah meninggalkan kota kelahiran, Bone, Sulsel. Pilihan saya saat itu merantau ke Batam dan sampai akhirnya di pekerjaan mendapat beasiswa ke Jepang,” ungkap Basri, sarjana ekonomi, putra ke-8 dari 15 bersaudara di dalam keluarganya.
Sesungguhnya popularitas dirinya sudah dapat ia rasakan setelah album kedua dangdut Bugis Baholipa dirilisnya. “Yang jelas, saya bangga karena satu-satunya penyanyi dangdut pria yang berasal dari Bone Makasar, Sulawesi Selatan,” tegas Basri yang tetap selalu merasa optimis akan masa depan karirnya. sukses ya… Bas! (BP)
Berita lainnya:







