JAKARTA,
….air mengalir sampai jauh…akhirnya ke…laut…
Demikianlah penggalan bait-bait lagu Bengawan Solo yang terdengar ‘adem’ di hati siapapun yang mendengarkannya. Bukan sekedar lagu indah dan syarat makna kecintaan akan tanah kelahiran, namun sudah seyogyanya secara hakikatnya, lagu tersebut adalah simbol dari diri manusia yang pasti akan kembali menghadap Sang Penciptanya, seperti halnya air, dari manapun asalnya, pasti akan kembali ke laut.
Tidak terkecuali dengan sang pencipta lagu ’Bengawan Solo”, Gesang, kepergian Sang Maestro keroncong tersebut cepat lambat juga harus meninggalkan kita. Gesang di panggil Sang penciptanya dalam usia 92 tahun. Gesang meninggal tepat pukul 18.10 WIB, Kamis (20/5), di ruang perawatan ICU Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Surakarta.
Setelah sebelumnya sempat mengalami drop 2 kali, pertama pukul 11.00 WIB, dan kemudian yang kali ke duanya pada pukul 17.30 WIB, namun akhirnya nyawanya tak dapat di selamatkan lagi pada jam 18.10WIB, setelah mengalami pelemahan jantung..
Rencananya jenazah akan langsung di bawa ke rumah Gesang, di Jl. Pedoyo, Kemlayan, Surakarta, Jawa Tengah, dirumah tinggalnya. “Tidak ada pesan terakhir dari beliau,” ujar Ardani, sang keponakan almarhum.
Pria kelahiran Jawa Tengah, 1 Oktober 1917 ini bahkan sempat menyanyikan lagu jembatan merah dan bengawan solo sebelum akhirnya di jemput yang maha kuasa. Dan almarhum sempat berpesan agar terus membudayakan lagu-lagu keroncong di tanah air.
Selamat jalan sang Maestro, lagumu kan selalu mengalun di sepanjang perjalanan perjuangan bangsa ini.(dhanie)
Berita lainnya:







